SKENARIO
Akhir tahun
selalu menjadi kelam untukku. Beribu-ribu sesal menyusup hingga kedalam jiwaku
yang paling tersembunyi. Sesal memang selalu datang terlambat. Sesal juga
selalu datang membawa kawan bernama apatis.
“ayah
menyekolahkanmu agar bisa mengangkat derajat kelurga ini. Kalau kamu bukan anak
tunggal, ayah bisa berharap pada adikmu atau kakakmu. Tapi kamu itu anak
tunggal, harusnya kamu mengerti perasaan ayah!”. Satu katapun dari kalimat ayah
itu tak bisa kulupa. ”tapi saya tak ingin jadi pegawai negeri, ayah!” bantahku
saat itu. “ lalu mau jadi apa ? dari dulu kamu tak mau menjadi pegawai negeri,
tapi toh tak bisa juga diterima kerja di perusahaaan swasta. Tak bisa juga
bikin usaha sendiri, lalu mau jadi apa ?”, aku membuang napas keras-keras saat
itu, meski tak berani membuang wajah dari hadapan ayah. Aku tetap memilih
tunduk sambil sesekali membalas tatapan ayah, ayah selalu merindukan
mendapatkanku pagi-pagi terbalut dengan pakaian seragam kantor, senin dengan
seragam warna khaki, selasa dengan hijau hansip, dan sesekali dengan pakaian
kopri. Tapi jauh dilubuk hatiku, pakaian-pakaian itu akan membatasi ruang
gerakku.
“tak ada
ruginya jadi PNS. Pulang kantor kamu masih bisa menulis. Atau bahkan dikantor
saat tak ada kerjaan kamu bisa menulis.”kalimat itu sepertinya tak pernah
berubah redaksinya, setiap tahun saat aku hendak ikut tes CPNS. Mungkin dia
bisa menyelami kedalaman hatiku bahwa aku ikut tes CPNS hanyalah untuk
membesarkan hatinya, membuatnya gembira. Dan hasilnya tak pernah menggembirakan,
aku selalu saja tak lulus. Entah mendaftar di departemen atau di pemkab.
Umurku pun
menjulang ke angka tiga puluh enam tahun, dengan istri seorang ibu rumah
tangga, ditambah satu anak. Jalan hidup yang selama ini kutempuh tanpa riak
berarti, tiba-tiba bergelombang, sebuah kecelakaan hampir saja merenggut
nyawaku, hampir. Meski telah berhasil mengambil semua rasa percaya diriku.
Kecelakaan itu memang bukan terjadi di akhir tahun. Tapi sesal selalu datang
bertamu di setiap akhir tahun, setiap semua sarjana sibuk mengurus berkas untuk
mendaftar CPNS. Dan setiap itu, aku selalu teringat dengan kalimat;kalimat ayah
yang menginginkanku menjadi PNS.
Sesal semakin
menyakitkan ketika kuingat bahwa kecelakaan yang melumpuhkan semangatku itu,
terjadi saat umurku tak memenuhi syarat lagi untuk mendaftar CPNS. Mungkin
sebuah dosa besar yang beralamat kecelakaan karena dulu setiap mengikuti tes
CPNS. Aku selalu mengerjakannya asal-asalan bahkan tak membaca soal karena
memang tak ingin lulus.
Profesi PNS
melayang, kemampuanku merangkai kata seperti ikut raib. Cerpen, puisi, dan esai
yang pernah termuat dimedia, menjelma menjadi jejak yang tak mungkin bisa
kupijak untuk kedua kalinya. Sekali lagi, yang tersisa hanya sesal. Kepalaku
tak lagi menyimpan kosakata apapun untuk ditulis.
“menyesal
bukan jalan keluar, Daeng ! selama ini saya nggak pernah menuntut banyak. Tapi
sampai kapan kita harus bertahan dengan kondisi hidup seperti ini ? sekarang
memang kita masih bisa makan. Saya masih sanggup untuk menyukupinya, tetapi semakin
besar anak kita, kebutuhan akan semakin membengkak.” Aku memilih diam. “sebelum
menikah dengan Daeng, saya sudah sering membaca cerpen-cerpenmu. Bagiku Daeng
bukan sekedar penulis saat itu, tapi seorang motivator ulung. Mengapa justru
Daeng lumpuh semangat karena kondisi fisik yang cacat ?”
Kali ini bukan
hanya tak bisa bicara, aku juga tak bisa bergerak. Istriku benar. Hanya karena
hidupku bergantung pada kursi roda. Seluruh anggota tubuhku tak bisa berfungsi
apa-apa. Mungkin terlalu lama aku bergelut dengan cerita fiksi hingga lupa pada
satu hal bahwa ada sisi lain dari hidup ini yang harus dipahami, yakni,
kenyataan.
“Daeng,
kenyataan tak bisa dilawan dengan keangkuhan, juga tak bisa mengalah dengan
berpasrah. Hidup ini harus dimainkan. Itu bila kita tak ingin merasa
dipermainkan takdir.” Setelah lama tertunduk, kupilih untuk meraih ban kursi
rodaku lalu masuk ke kamar. Tapi merasa bisa menceramahiku, istriku mengekor
dari belakang sambil menggendong Ridho, anak kami.
Dieng,
berpijaklah pada kenyataan, kita nggak sendiri, begitu banyak orang yang juga
ikut mengecap pahit yang kini kita rasa, tapi hanya sedikit yang bisa bertahan.
Hidup bukan cerita fiksi, Daeng! Selamat datang dialam nyata! Derita memang
selalu identic dengan kenyataan, sementara bahagia sebagian besar hanyalah
mimpi, itu jika dibaca tanpa kacamata syukur.”
Entah mungkin
istriku bisa melihat air mataku yang sudah menggumpal dibalik retina hingga dia
akhirnya memilih untuk meninggalkanku sendiri, aku sadar, dengan sesadar-sadarnya.
Semua yang diucapkan istriku adalah benar. Tapi ku ulangi sekali lagi, sesal
tak hanya melumpuhkan kakiku tapi juga semangatku.
***
Ayah datang
dari kampung. Dia telah berdiri didepan pintu. Tak boleh ada kesan jika kepulan
asap dapur kami semakin menipis. Semalam kami juga telah sepakat dengan
scenario yang harus kami perankan, ayah tak boleh tahu kalau aku telah lama tak
pernah lagi menulis. Kalaupun masih ada aliran honor masuk ke rekening, itu
karena istriku yang aktif mencari cerpen-cerpenku yang belum termuat, kemudian
mengirimkannya. Atau cerpen yang tidak layak muat di suatu media, dia alihkan
ke media yang lain.
“Assalamu’alaikum…..”
Seolah tanpa menunggu jawaban
salam kami, ayah langsung mengambil ridho dari gendongan istriku. Bocah satu
tahun itu awalnya menatap mamanya, seolah meminta persetujuan. Tapi karena ayah
yang agresive menciuminya, menggelitik pipinya dengan kumis berubannya, ridho
akhirnya berakrab ria.
***
Hari
kedua kedatangan ayah. Ayah belum juga menderaku dengan pertanyaan ’siapa
suruh’. Siapa suruh dulu tak sungguh-sungguh ikut tes CPNS, siapa suruh jadi
penulis ? “ ayah masih biasa baca cerpen kamu di Koran nasional.” Ayah sudah
mulai membuka tema. Istriku yang sedang meletakkan gelas berisi kopi untuknya,
melirikku lalu kembali ke dapur. Itu memang lebih baik, takutnya, istriku tanpa
sadar membuka kartu jika cerpen-cerpen itu adalah cerpen lama yang dia daur
ulang.” Untungnya kamu dulu tak pernah lulus CPNS. Tatapanku yang tadi
tertunduk dan pura-pura baca Koran, langsung berpindah ke bola mata ayah yang
tak berbalik membalas tatapanku. “maksud ayah ?” Apa jadinya jika kamu PNS lalu
tak pernah masuk kantor karena tak biasa
meninggalkan kursi rodamu ? anak dan istrimu akan kamu nafkahi dari penghasilan
yang membebani Negara.”
Aku menarik
napas keras, sepertinya aku telah mampu berjalan tanpa bantuan kursi roda.
Lega, lepas dari belenggu sesat. “ayah percaya, penulis juga bisa kaya. Kalau
selama ini ayah merindukanmu jadi PNS karena ingin melihatmu pakaian dinas,
sekarang tidak lagi. Bukan karena umurmu yang tak memenuhi syarat lagi, tapi
karena toh kamu bisa menulis dengan pakaian dinas PNS. Tak ada yang larang kan
? ayah mengakhiri katanya dengan tawa renyah. Aku ikut tertawa. Jemariku sudah
gatal untuk menulis lagi.
***
Besok ayah
pulang, terbangun dari tidur, istriku tak ada disamping. Kupaksakan diri
menaiki kursi roda tanpa bantuan siapapun. Mungkin istriku sedang merapikan
pakaian ayah yang tercampur dengan pakaian lain setelah dicuci. Tapi belum
sempat kutarik handle pintu. Kudengar suara istriku sedang bercerita serius
dengan ayah. Aku memilih menguping.
Ternyata
scenario yang kususun bersama istri sebelum kedatangan ayah, tak bisa
kuperankan dengan baik. Ayah dan istriku nyatanya punya scenario lain. Kedatangan ayah karena dipanggil oleh istriku. Merasa tak bisa menasehatiku,
dia meminta bantuan ayah. Mereka tak hanya berhasil menumbuhkan kembali
semangat menulisku tapi juga membuatku terjaga bahwa sang penulis scenario
telah memberi peran kepada setiap orang termasuk peranku yang dulunya bisa
berjalan, sekarang harus dengan bantuan kursi roda.
“ dek dimas, dek, ayo bangun sayang, ambil air wudhu truz sholat shubuh” sambil mengusap usap rambutku suara lembut kak wanda membangunku, entah mengapa setelah sholat tahajjud tadi, mataku begitu berat, rasa kantuk begitu menggelayuti dan seolah mengajakku untuk terlelap dan berpetualang kembali dialam mimpi.
Cahaya itu kan tetap bersinar
di hatiku
“ dek dimas, dek, ayo bangun sayang, ambil air wudhu truz sholat shubuh” sambil mengusap usap rambutku suara lembut kak wanda membangunku, entah mengapa setelah sholat tahajjud tadi, mataku begitu berat, rasa kantuk begitu menggelayuti dan seolah mengajakku untuk terlelap dan berpetualang kembali dialam mimpi.
Mentari
lamat-lamat mulai menyongsong pagi, sinarnya merubah cuaca bumi berubah cerah, kubuka jendela
kamarku, kubiarkan sinarnya masuk menerobos ruang, kutatap mentari yang hendak ke garis cakrawala, cerah sinarnya seolah
menggambarkan kondisi hatiku pagi ini J, yupz, hari ini aku kembali masuk kelas, setelah
hampir setengah bulan terbaring lemas diranjang rumah sakit, aku tak tahu pasti
penyakit apa yang ada ada pada tubuhku, kak wanda hanya tersenyum dan bilang
Cuma demam biasa, tiap kali aku bertanya padanya. Dimataku Kak wanda adalah sosok yang sangat lembut,
penyayang, sabar dan penuh tanggung jawab, tak pernah sedikitpun kudengar
keluhan yang keluar dari bibirnya, hanya senyum ketegaran yang selalu ia
pancarkan diwajah manisnya, seperti biasa kak wanda lah yang selalu menyiapkan
sarapan, dan mengantarkanku berangkat ke sekolah, tiap pagi ayah pergi toko
lukisan seni miliknya, dan selalu pulang malam dengan motor buntutnya, ibuku
telah meninggal saat berjuang melahirkanku, itu mengapa aku selalu merasa
kesepian tiap kali kak wanda berada di kampus, kak wanda adalah mahasiswi jurusan sastra indonesia semester lima di
UPI bandung, sedangkan mz faris mahasiswa
jurusan teknologi semester awal di ITB, lain halnya dengan kak wanda, mz
faris, kakak keduaku adalah sosok yang cuek, suka nge gank, dan agak
keras, karena sifatnya yang seperti itulah
aku kurang dekat dengannya, meskipun begitu, jauh dilubuk hatinya yang paling
dalam sebenarnya ia adalah sosok yang baik hati.
Dengan
mengendap ngendap aku nylonong masuk ke kamarnya kak wanda dan mencoba
mengagetkannya, “kak wandaa”, “astaghfirullahal adzim, hayoh, udah kebiasaan
dech dek dimas, kan kakak udah bilang berkali-kali, kalau mau masuk kekamarnya
kak wanda salam dulu”, aku hanya nyengir kuda mendengar kata-kata kak wanda, “iya
dech kak, maap, dimas khilaf, he, kak, dimas boleh nggak tidur sama kakak,
besok kan libur, jadi dimas ingin mendengar cerita-ceritanya kakak” dengan nada
memelas, biar kak wanda mengijinku tidur dikamarnya, “hmm, iya, boleh, tapi ada
syaratnya yaa…”sambil tersenyum ”apa kak syaratnya” tanyaku polos ” hmm, ga’boleh ngompol :D”, canda kak wanda,
“iih, kakaak, itu kan dulu, waktu dimas masih TK, sekarang dimas kan udah gede, kelas tiga SD
gitu, masak masih ngompol ” (sambil pura-pura cemberut), ”hmm, iya-iya, kakak
kan Cuma becanda sayang, gitu aja cemberut, ntar cakepnya ilang lho…”kamarnya
kak wanda selalu tertata rapi, itu mengapa aku selalu merasa betah dan ingin
berlama-lama didalamnya, kumpulan berbagai buku, majalah-majalah islami, tertata
baik di rak buku, pada sela-sela bagian tengah meja belajar. Tujuh keping CD
dengan tenang berbaris bersama rekan-rekan sejawatnya yang lain, diantaranya
ada hijaz, izzatul islam, shoutul harokah, raihan, nahawan, awan voice,
justice, de el el, aku juga heran mengapa kak wanda dengan mz faris begitu
berbeda , kalau kak wanda suka lagu-lagu nasyid, lain lagi dengan mz faris, ia lebih
suka lagu-lagu rock gitu. “kak, dimas ganggu kakak ya”, tanyaku melihat kak
wanda yang masih asik menarikan jarinya diatas keyboard laptopnya, “enggak kok sayang, bentar ya, udah hampir
selesai koq”, sambil menunggu kak wanda menyelesaikan ngetiknya, aku ngambil
salah satu kaset kak wanda, dan memutarnya, meskipun sebenarnya agak asing, beda banget dengan lagu-lagu yang biasa
diputar ditempat-tempat umum, lagu-lagunya syahrini, ayu ting ting, noah dan
lagu-lagu ngetrand masa kini . ternyata lagu yang pertama ku putar “Indonesia memanggil” shoutul
harokah” kak ini lagu apaan si, gini banget, emang kakak nggak tertarik dengan
lagu-lagu pop, jazz, dan rock, kan lebih keren kak, kak wanda tersenyum,
mendengar celotehanku, ” dek dimas, coba dech, dengerin setiap kata yang dilantunkan,
kata-katanya bisa menentramkan jiwa, nasyid juga bisa membuat kita selalu ingat
kepada Allah, nada-nadanya juga sangat indah, dek dimas sayang, inilah music
milik kita sebagai seorang muslim J, kalau lagu yang sedang adek putar ini,
termasuk nasyid suara pergerakan, adek bisa memahami kan kata-kata yang
terkandung didalamnya, negeri kita membutuhkan pemuda-pemuda yang tangguh untuk
memperjuangkan agamanya Allah, menebarkan kebaikan, dan meluruskan segala yang
buruk di negeri ini, kalau ntar pemuda-pemudanya jahat dan gak tau agama,
gimana donk nasib negeri kita, tidak hanya itu nasyid juga melantunkan hal-hal
yang berkaitan dengan ukhuwah, kesabaran, dan hal-hal menarik lainnya”,”
ukhuwah itu apa kak ?” tanyaku polos,
“ukhuwah itu artinya persaudaraan, sekarang dek dimas udah tau kan mengapa kak
wanda lebih suka dengan lagu-lagu nasyid dibandingkan dengan lagu-lagu pop yang
kebanyakan isinya kurang bermanfaat dan dapat mengeraskan hati kita”, aku
mengangguk-angguk tanda kemengertianku, “ok, kakak udah selesai tugasnya, adek
mau diceritain apa nih sama kakak…”, “hmm, kayak yang kemaren kak”,”ya udah
ganti tokoh ya, sekarang Abu hudzaifah bin utbah”, tidak berapa lama akupun
tertidur.
Hari
demi hari berganti, matahari beranjak naik, siang makin terik, mendung yang
mendekam sejak pagi telah pergi dihembus angin, tiba-tiba praaak, aku terkejut
dan berlari mencari arah suara itu berasal, ternyata dari kamarnya mz faris,
aku mengetuk pintunya dan bertanya apa yang terjadi dengan mz faris, tetapi tak
ada balasan, aku semakin panik dan berusaha menghubungi kak wanda, mental mz faris memang agak labil, itu mengapa ia sering
tidak bisa menahan emosinya sendiri, ia juga merasa bahwa ayah tidak pernah
punya waktu untuk bersama keluarga, hanya kerja, kerja dan kerja, sebagai
pelampiasan, ia sering keluar, dan jarang berada dirumah, entah apa yang
dilakukannya diluar sana. Selang beberapa menit, kak wanda datang dan
menanyakan apa yang terjadi, dan aku menceritakan kejadiannya, tok tok tok, kak
wanda mengetuk pintu mz faris” faris, faris, buka pintu sebentar, kak wanda mau
bicara sama faris” mendengar suara kak wanda mz faris langsung membuka pintu,
dan membiarkan kak wanda masuk kedalamnya, “ faris, faris kenapa ? kalau faris
ada masalah, tolong cerita sama kakak ya, ayah memang tidak bisa sepenuhnya
berada didekat kita, tapi percayalah, ayah melakukan semua ini bukanlah tanpa alasan,
ayah banting tulang, kerja keras memeras keringat siang dan malam, hanya untuk
memenuhi kebutuhan kita, hal terpenting yang harus faris lakukan adalah
memenuhi amanahnya, yaitu belajar dengan baik, agar faris kelak bisa hidup
sukses, karena itulah yang diharapkannya”, “tapi kan gak begitu juga, paling
tidak ayah meluangkan sedikit waktunya untuk kita, bertahun-tahun ia hanya
mengurusi pekerjaannya, tanpa sedikitpun perhatiannya ia berikan kepada kita, kerja,
kerja dan hanya kerja yang ada difikirannya”, mukanya memerah karena menahan
kekesalan dan amarahnya, “seiring berjalannya waktu suatu saat nanti faris akan
mengerti mengapa ayah melakukan semua ini, dan kakak berharap, faris dapat
menjalankan amanahnya dengan baik J ”,kak wanda keluar dan menutup kembali kamar
mz faris. haripun berganti malam, waktu sudah menunjukkan pukul 19.30 WIB,
terdengar suara dering telepon rumah, belum sempat melepas mukena, kak wanda
berlari menghampiri gagang telepon, dan mengangkatnya, aku turut membuntutinya
di belakang, “assalamu’alaikum, astaghfirullahal adzim…di rumah sakit mana ? (matanya
berkaca-kaca) )oh, iya, iya kami akan segera kesana” ucap kak wanda lalu
menutup gagang teleponnya. “kak, ada apa ?” tanyaku, “ayah masuk rumah sakit
sayang”, tanpa membuang buang waktu, kak wanda langsung menggandeng tanganku,
dan mengajakku ke rumah sakit, untungnya malam itu masih ada angkot yang narik,
setibanya dirumah sakit, kami langsung menuju ke bagian receptionis, dan
menanyakan dimana ayahku ditempatkan, aku melihat kepanikan yang sangat, yang
tak pernah sebelumnya aku lihat diwajah kak wanda, kami menuju ke kamar no 507,
aku melihat ayah terbaring lemah, dengan kabel selang yang memenuhi wajahnya,
kak wanda langsung memegang tangan ayah, air matanya jatuh bak bendungan yang
tidak mampu lagi menahan air. malam itu kami tidur dirumah sakit untuk menemani
ayah. Mz faris ada dirumah sendirian, ia masih mengurung diri dikamarnya, entah
ada angin apa tiba-tiba ia masuk ke kamar ayah, sebenarnya ia kangen dengan
sosok ayah yang dulu, sebelum ibu meninggal dunia, ketika ia berbaring
tiba-tiba saja ia merasa ada yang mengganjal di bantal, ia membukanya dan
melihat ada sebuah kotak berwarna coklat, karena penasaran ia membukanya, dan
melihat ternyata isinya adalah sebuah foto keluarga kenang-kenangan terakhir,
ternyata ayah masih menyimpannya, gambar ayah, kak wanda, mz faris, dan ibu
yang waktu itu sedang mengandungku 7 bulan, diatas foto ada sebuah surat, mz
faris membukanya dengan perlahan, tiba-tiba saja ia menangis, itu adalah
coretan tangan ayah….
“Berjalan menyusuri masa, berpacu setiap detik,
menit yang berganti, berhembus nafas yang mengiringi, lalu sejenak menoleh
kebelakang, terlihat rentetan angka 1,2,3,…, dan seterusnya, lalu sampailah
pada angka hidupku hari ini, angka yang bernama usia, yang akan terhenti bila
nanti kutiada, menemui sang maha
pencipta. anak-anakku, wanda, fariz, dimas,
ayah sangat menyayangi kalian,
meskipun ayah tau, tak sepenuhnya ayah dapat berada didekat kalian, tapi do’a
ayah tak akan mampu berhenti menyertai. anak-anakku, ayah tidak tahu, sampai kapan
ayah dapat bertahan hidup, dengan penyakit ayah yang terus menggerogoti tubuh
ayah, tapi sekuat tenaga ayah, ayah akan selalu berjuang memberikan yang
terbaik untuk kalian.
Seketika
itu mz faris menuju rumah sakit, menyusuri lorong-lorongnya, dan ketika sampai
di kamar no 507, ia melihat ayah telah terbujur kaku ditutup kain kafan, “ayaaaah,
faris minta maaf, faris sayang sama ayah, ayah, faris mohon buka mata ayah,
faris ingin bercanda tawa dengan ayah, faris kangen sama ayah, ayaaah…..” isak
mz faris, “mz faris, udah jangan nangis , kata kak wanda, ayah sudah ada di
syurga, mz faris nggak usah khawatir, ayah sudah berada disisi Allah, ayah
pasti seneng dan bahagia tinggal disana” mz faris lalu memelukku dengan erat,
“iya sayang, mz faris, nggak nangis lagi, maafin sikap mz selama ini ya, mz
faris sayang sama dek dimas”, “dimas juga sayang sama mas faris”.
Dua
hari kemudian, tante berkunjung kerumah kami, dan memberitahu bahwa ayah telah
menitipkan biaya hidup dan pendidikan kami bertiga, dan ia menceritakan bahwa
ayahnya sudah mempersiapkan semua itu setelah ibu kami meninggal, selang
beberapa bulan, ternyata penyakit kanker hati menyerang ayah, dan semenjak itu,
ayah berjuang keras untuk kami, dan berpesan bahwa jika suatu saat nanti ayah
di panggil Allah, agar tante dapat
menjaga dan menyayangi kami seperti halnya anak sendiri. Kak wanda dan mz faris
hanya tertunduk menahan air mata yang hendak jatuh, tetapi tertahan karena
takut terlihat olehku. Didalam hati, aku berkata”kak wanda, mz faris, kalian
adalah kakak-kakakku yang hebat, dimas bangga punya kakak seperti kalian, ya
Allah terimakasih engkau telah menyisakan dua malaikat untukku, berikanlah
kebahagiaan untuk mereka ya Allah, dan pertemukanlah keluarga kami kembali di
syurgamu kelak, amiin.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar